Tampilkan postingan dengan label disiplin spiritualitas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label disiplin spiritualitas. Tampilkan semua postingan

Jumat, Oktober 30, 2009

RUTIN DAN RUTINITAS

Oleh: Rasid Rachman



Salah satu hal yang paling ditakuti orang adalah rutinitas. Lihat dan perhatikan saja percakapan-percakapan sesama rekan Pendeta dan rohaniwan, guru-guru sekolah, manajer dan direktur di perusahaan, ibu-ibu rumah tangga, bahkan anak-anak sekolah. Rutinitas adalah nama, istilah, terminologi yang sering dihindari oleh banyak orang di zaman ini. Kata ini menimbulkan konotasi membosankan. Ia menciptakan momok atau bahkan mimpi buruk bagi sebagian orang.

“Apa kesibukanmu hari ini?” tanya seseorang.
“Yah, tidak ada yang istimewa. Rutin-rutin saja,” jawab seorang temannya.

Percakapan sederhana dan lazim tersebut merupakan contoh yang memperlihatkan bahwa rutinitas bukan sesuatu yang besar, luar biasa, atau istimewa.
Jadi, bagaimana mungkin dari hal yang sangat biasa itu, yakni rutinitas, muncul sesuatu yang luar biasa semacam eureka atau big bang. Untuk mulai melakukan yang rutin hari itu saja sudah melelahkan, apalagi berkreasi dengann rutinitas. Tapi cobalah memperhatikan alam semesta. Bukankah semuanya berjalan dengan rutin.
Rutin berarti berjalan sesuai prosedur yang teratur dan tidak berubah-ubah. Rutin berasal dari kata tour (Prancis), tornare (Latin), artinya: putaran, keliling, dan re (Latin), berarti: kembali, mengulang. Retour (Prancis), return (Inggris) berarti kembali ke jalan semula. Dengan kata lain, rutin adalah “perjalanan sesuai putaran waktu di tempat itu-itu saja.” Kata routine dalam bahasa Prancis dapat juga berarti latihan, kebiasaan, ketangkasan. Rutin juga dapat dilihat dari ritorno (Italia), artinya kembali. Dari kata ritorno tersebut muncul ingatan pada rituale, yakni ritual. Ritual (ri + allée) adalah mengerjakan terus itu-itu saja seperti halnya orang berjalan berputar. Seseorang menghayati ritus kepercayaannya, karena ia rutin melakukan ritus tersebut. Segala sesuatu yang dijalani dengan biasa (dengan teratur dan rutin) membuat kita terlatih dan menjadi tangkas.
Seseorang dapat menjadi atlet bulu tangkis oleh karena ia melakukan latihan begitu-begitu saja sesuai prosedur waktu. Ia tidak akan menjadi atlet bulu tangkis terlatih, apabila jadwal dan bentuk latihannya berbeda setiap saat – hari ini berlatih smash, besok berlatih memasukkan bola ke keranjang, lusa berlatih melompat dengan galah, dst. Atau pekan ini latihan 2 kali, pekan depan tidak latihan, pekan berikutnya latihan 6 kali, begitu seterus tanpa jadwal tetap. Tanpa latihan yang rutin, yakni menurut prosedur itu-itu saja, seseorang tidak akan menjadi atlet yang tangkas dan terlatih.
Selain hal yang berhubungan dengan atlet, dalam aktivitas dan hidup sesehari, rutinitas telah membantu kehidupan itu sendiri. Bayi bertumbuh karena rutin menjalani kehidupannya: kapan makan, kapan tidur, kapan bermain. Manusia menjadi sehat dan bergizi karena rutin menjalani kegiatannya: berolah raga teratur, makan teratur, istirahat teratur. Seseorang menjadi ahli karena ia mencintai satu subjek keahliannya. Kita masih hidup karena alam semesta berjalan sesuai prosedurnya secara rutin: surya bersinar di waktu pagi dan tenggelam waktu senja, musim berganti musim sesuai jadwal, tanaman mengeluarkan oksigen pada siang hari dan mengeluarkan karbon dioksida pada malam hari, bumu berputar mengikuti rotasinya, dsb. Air mengalir ke tempat lebih rendah, namun akan terjadi bencana banjir jika air merayap ke tempat lebih tinggi. Dengan demikian, rutinitas menciptakan kemajuan dan memelihara kehidupan. ©

Senin, Februari 23, 2009

SPIRITUALITAS YANG MEMBANGUN PROGRAM PROGRAM YANG MEMBANGUN SPIRITUALITAS

Oleh: Rasid Rachman

Pendahuluan
Topik spiritualitas semakin sering dikemukakan oleh kalangan gereja akhir-akhir ini. Sepuluh tahun lalu, topik spiritualitas ini banyak digunakan oleh kalangan eksekutif di beberapa perusahaan untuk meningkatkan kinerja karyawan. Namun kini, para pejabat gereja dan aktivis pun belajar untuk menggali nilai-nilai spiritualitas dengan tujuan yang kurang lebih sama, yakni meningkatkan kinerja pelayanan sehingga para aktivis tidak melulu menyelesaikan tugas-tugas pelayanan. Hal ini wajar saja, karena memang sejak lama spiritualitas adalah terminologi yang digunakan dan bahkan dilahirkan oleh dunia gerejawi.
Dunia gerejawi yang dimaksud adalah monastik (tradisi hidup membiara). Gerakan monastik pada abad ke-3 adalah gerakan untuk kembali menyemangati (fervens) hidup Kristen setelah pembaptisan dan kemudian menjadi orang Kristen biasa. Yang ditolak sebenarnya bukan rutinitas, tetapi kerja monoton tanpa greget sebagai pendalaman dalam pelayanan. Sikap fervens menekankan semangat membara dalam menjadi pengikut Kristus.
Ada tujuh hal yang saya tarik dari tradisi monastik untuk nilai kepejabatan gerejawi, yaitu: ketiadaan, berpegang pada kaul, doa rutin, kerja tangan, biara sebagai sekolah, perziarahan, dan derma. Praksis monastik ini tidak akan saya uraikan, melainkan akan kita tarik intisarinya secara aplikatif untuk nilai-nilai spiritualitas para pejabat gereja.
Hal ini saya lakukan dengan mengingat bahwa ada beberapa perbedaan antara hidup membiara dan pelayanan di gereja, antara lain: para pelayan gereja tidak meninggalkan keluarga dan tinggal di klauster, sementara para rahib hidup meninggalkan keluarga dan tinggal di klauster; jabatan pelayan tidak seumur hidup-mati, sementara menjadi rahib adalah untuk seumur hidup; menjadi pelayan bagi beberapa orang adalah agak dipaksa, sementara menjadi rahib adalah keinginan besar yang lahir dari diri sendiri; dan pelayan Tuhan menjalankan misi gereja yang bersifat komunal-ekumenikal, sementara rahib menjalankan panggilan hidup personal. Dengan kata lain, saya lebih menekankan beraskese di luar tembok biara (innerwelische askese) bagi para pelayan gereja.

I. Mulai dari ketiadaan
Calon rahib ditempa dengan sejumlah tahap sebelum mengucapkan kaul. Segala macam pencobaan, penolakan, dan pengujian diberlakukan terhadapnya. Hasil pengujian, berbeda dengan ujian umumnya di mana seseorang menjadi lebih berbobot, tujuan ujian bagi rahib adalah agar menjadi seseorang yang nobody, bukan siapa-siapa.
Zaman sekarang sedang musim seseorang memiliki dan mengejar kesempurnaan. Pengusaha menyempurnakan diri dengan menjadi penguasa (pejabat pemerintah). Tokoh masyarakat mendapat gelar Doktor. Pengusaha juga berusaha menjadi alim-ulama, semisal Pendeta atau Majelis Besar, dsb. Gereja juga tergoda untuk memiliki kesempurnaan tampilannya, baik penyambutan jemaat maupun segala kemewahan sarana-prasarana. Ajaran Yesus tentang “orang muda yang ingin hidup kekal” sangat relevan untuk pengajaran tentang meraih kesempurnaan dengan melepaskan semuanya, karena kesempurnaan atau hidup kekal adalah dengan menjadi pengikut Kristus – bukan sekadar: mati, masuk sorga.
Menjalankan panggilan pelayanan dimulai dari ketiadaan atau kekosongan, bukan dari kebesaran, kehebatan, kelebihan. Tidak sedikit umat yang menjalankan pelayanannya dengan kebanggaan atau bahkan ambisi. Namun menjalani pelayanan adalah bukan menjalani panggilan kita, melainkan menjalani panggilan Yesus. Orang muda yang berinisiatif untuk hidup kekal (= meraih kesempurnaan setelah memiliki segala sesuatu: pengetahuan dan harta) dalam Matius 19:16-22, diajak Yesus untuk mengikut-Nya dengan melepaskan semuanya. “Juallah segala milikmu, berikanlah kepada orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah kemari, dan ikutlah Aku,” kata Yesus. Orang itu bukan hanya miskin, tetapi juga hanya sekadar menjadi pengikut. Inisiatif kita perlu ditanggapi dengan memenuhi kehendak Tuhan, bukan kehendak pribadi.



II. Berpegang teguh pada kaul
Untuk menjadi rahib, seseorang melewati suatu pengujian bertahap. Namun untuk menjadi pelayan gereja biasanya terjadi agak otomatis (kecuali soal waktu setelah atestasi atau pembaptisan). Beberapa Jemaat atau Klasis telah memiliki jenjang pembinaan, namun sebagian besar Jemaat belum memiliki jenjang pembinaan. Jadi satu-satunya yang jelas dapat dipegang adalah ritus peneguhan Penatua atau penahbisan Pendeta.
Ritus peneguhan dan penahbisan bukan hanya diberlakukan bagi yang diteguhkan atau yang ditahbiskan. Ritus tersebut juga berlaku bagi para Penatua atau Pendeta pendahulu untuk membarui janji peneguhan atau penahbisannya pada waktu peneguhan penatua baru.
Ada dua formula yang selalu diulang dalam liturgi peneguhan, yaitu nyanyian “Pada-Mu, Yesus, Kami Serahkan” (KJ 319) dan formula peneguhan Penatua.
Nyanyian ini menyatakan bahwa panggilan pejabat gerejawi (orang terpilih dalam jemaat) adalah “untuk membina, menghibur, menghimbau, menjaga, dan menyatukan” umat. Jelas, ini menegaskan bahwa Penatua adalah gembala jemaat.
Janji peneguhan adalah komitmen setiap pelayan di rumah Tuhan. Janji itu, antara lain: melaksanakan pembangunan jemaat, menjaga ajaran gereja, perkunjungan pastoral, dan bekerja sama dengan segenap unsur dalam Jemaat. Ritus peneguhanlah yang membuat pelayan Gereja berjalan pada panggilan semula.

III. Doa rutin
Disiplin spiritualitas dijalani dengan ketaatan pada hal-hal rutin, terutama doa. Para rahib dikuatkan dalam doa-doa harian. Doa harian dirayakan 3-7 kali sehari (bnd Mzm 119:164). Doa-doa harian dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi motivator untuk orang melanjutkan kerjanya.
Suka berdoa adalah kunci pelayanan. Berdoa bukan karena kewajiban (sehingga selalu buru-buru dan sisa waktu untuk berdoa), melainkan karena kesukaan. Lakukanlah doa secara rutin dan di dalam keheningan. Di dalam berdoa, bukan kita yang berbicara kepada Allah. Berdoa di dalam keheningan yang dibantu dengan menyanyikan atau mengucapkan Mazmur-mazmur berarti membiarkan Allah berbicara kepada kita.
Kita seringkali alergi atau tabu dengan rutinitas, dengan alasan membosankan atau monoton. Hal-hal rutin bahkan sering dijadikan momok dalam kehidupan bergereja, sehingga dinomorduakan. Ibadah hari Minggu yang rutin mingguan, misalnya, inti ibadah memperingati kebangkitan Kristus, masih kurang mendapat perhatian teologis-praktis. Praksis para penyelenggara pun seringkali tidak terlalu serius menangani ibadah hari Minggu. Hal ini menjadi lebih jelas jika dibandingkan dengan perhatian jemaat terhadap ibadah istimewa atau ibadah-ibadah tahunan, semisal Natal atau sekadar HUT Jemaat.
Pelayanan sebagai Majelis Jemaat berhadapan dengan rutinitas. Rutin rapat, rutin mengurus adminstrasi, rutin mengatur ibadah, rutin mengingatkan, rutin memotivasi, rutin memilih panitia, dsb. Laksana axis mundi atau bor yang berputar pada titik poros, rutinitas memberikan kita pendalaman akan penghayatan. Seharusnya, semakin lama jabatan kepenatuaan, atau semakin sering seseorang menjadi Penatua, ia semakin cerdas, berhikmat, dan bijak menjalankan tugas-tugasnya.


IV. Kerja tangan dan karya sosial
Setelah doa rutin, maka kerja tangan adalah penting. Spiritualitas selalu berbentuk kegiatan dalam hal meningkatkan selebrasi dan aksi. Selebrasi berguna untuk menunjang penghayatan aksi, aksi berfungsi sebagai implementasi dari selebrasi.
Dalam Alkitab, Maria yang duduk bersimpuh di kaki Yesus mendapat kemuliaan karena Marta bekerja tangan di dapur. Yesus tidak mencela Marta yang bekerja, hanya mengatakan bahwa Marta tidak dapat memilih bagian yang ditentukan baginya; ia bersungut-sungut.
Kerja tangan hendaknya menjadi gaya hidup setiap umat dalam gereja guna mengimbangi aktivitas kerohanian atau gerejawi. Biasanya kita berpikir bahwa umat hanya perlu meramaikan kegiatan gereja, sementara kerja tangan diserahkan sepenuhnya kepada para petugas dan karyawan. Tantangan kita adalah menjadikan kerja tangan sebagai latihan spiritualitas dan gaya hidup. Moto: “kalau hendak berdoa, yah siapkanlah sendiri segala keperluannya.” Umat, siapa pun dia dan apa pun statusnya di masyarakat, menyiapkan kursi, tata ruang, membersihkan lantai, dsb. bersama para karyawan gereja. Umat bekerja mencari dana untuk menunjang kegiatannya – bukan minta-minta sumbangan – adalah hal positif untuk membangun kehidupan spiritualitas. Pokoknya, kerja tangan tidak dipandang hina dalam askese spiritualitas.

V. Biara sebagai sekolah
Panggilan spiritualitas monastik menjadikan biara sebagai schola, tempat setiap rahib ditempa dengan panggilan menjadi pengikut Kristus. Belajar dari Lukas 14:25-33 bahwa mengikut Kristus berarti “selalu belajar mulai dari ketiadaan apa pun dan siapa pun” laksana seorang murid. Biara adalah tempat belajar seumur hidup bagi rahib dalam menghayati arti mengikut Kristus.
Masa pelayanan kepenatuaan adalah baik jika dipahami sebagai masa pembelajaran dalam mengikut Kristus. Bukan dengan yang ada, melainkan dengan pengosongan diri secara radikal (“Jikalau seseorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci [μισεί = membenci, mengabaikan] bapanya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”). Respons Yesus terhadap orang banyak yang mengikuti-Nya berbeda. Bukan sekadar mengikut Yesus, tetapi menjadi murid Yesus. Harga untuk mengikut Yesus sangat mahal – yakni melepaskan semuanya, memikul salib, dan menyangkal diri – maka sebaiknya pertimbangkan masak-masak.
Menjalani masa pelayanan adalah latihan rohani hari demi hari. Hakikat murid adalah suka belajar, berlatih, dan tidak kalah mental karena satu-dua kali kesalahan. Masa pelayanan yang terbatas hendaknya digunakan oleh para pelayan sebagai wahana pembelajaran.
Lawan dari “benci” adalah “cinta”. Seseorang tidak akan dapat menjadi pengikut dan murid Yesus jika cinta kepada yang lain-lain masih lebih besar daripada cinta kepada Tuhan. Cinta kepada Tuhan adalah awal dari seluruh pelayanan kita.



VI. Bergereja sebagai perziarahan mengikut Yesus

Ajakan Yesus: “Mari, ikutlah Aku” merupakan ajakan tanpa target dan batas waktu. Yesus tidak menuntut kita untuk hadir di gereja beberapa jam seminggu, tidak terlambat datang bertugas ibadah, mampu berkhotbah dalam 2 tahun, dsb. Yesus cuma memanggil: “Mari, ikutlah Aku.” Namun sSampai di mana? Sampai kapan? Sampai apa?, tidak ada batas waktunya atau targetnya.
Pelayan Tuhan menghayati kecintaannya kepada Tuhan dengan menjadi pengikut Yesus terus-menerus seumur hidup. Jabatan kepenatuaan ada batas waktunya, kependetaan pun demikian. Namun pelayan yang mengikuti Yesus tetap melayani sekalipun tidak berjabatan. Mantan pejabat gereja tetap menjalankan pembangunan jemaat, turut serta di dalam keutuhan tubuh Kristus.

VII. Derma: dari terpaksa menjadi biasa
Gereja kita seringkali mendapat surat permintaan sumbangan. “Orang miskin selalu ada padamu,” kata Yesus. Sekitar 10 % materi PMJ adalah permintaan sumbangan. Jangan jemu-jemu menolong dan berbuat baik!
Memang harus waspada, supaya tidak menjadi objek pemerasan dan penipuan, namun berbuat baik adalah penting dalam hidup spiritualitas. “Apa pun yang kamu lakukan bagi salah seorang yang paling hina, kamu melakukannya untuk Aku,” kata Yesus. Tolonglah mereka yang membutuhkan pertolongan seperti menolong Tuhan sendiri.
Mereka yang suka menolong hampir pasti pernah menjadi korban penipuan orang yang berpura-pura. Penipuan atau kerugiaan tersebut hendaknya tidak menjadi alasan untuk menutup pintu pertolongan kepada siapa pun. Demikian arti dari “Tidak jemu-jemu menolong dan berbuat baik!”

Sabtu, November 15, 2008

RELAWAN

Oleh: Rasid Rachman

Berbagai ragam relawan bekerja dengan para suster Misionaris Cintakasih (MC) di Kolkata. Kebangsaan, warna kulit, agama memang sangat beragam. Dari segi jangka waktu bekerja pun bermacam-macam. Ada yang bekerja selama 3 – 4 bulan, bahkan ada yang sudah 1,5 tahun bekerja di MC ketika saya di sana. Ada pula pula yang hitungan minggu atau hari, bahkan ada yang cuma 1 –2 hari. Cara menjadi relawan cukup dengan melakukan registrasi pendaftaran pada sore hari di Mother’s House, lalu bekerja keesokan harinya atau ... ada juga yang kemudian tidak datang lagi.
Namanya saja relawan, bekerja yah serelanya. Ada yang agak main-main, namun ada pula yang bekerja dengan sangat giat dan serius. Kelompok yang terakhir ini biasanya memang pelancong tulen dan berasal dari negara yang mapan. Mereka tidak punya keluarga dan pekerjaan, tetapi duit ada terus – minimal untuk tidur di mana saja dan makan apa saja.
Jumlah relewan yang “menetap” lama atau agak lama ini tidak banyak. Oleh karena itu biasanya mereka dikenal oleh pegawai dan suster MC di center tempat bekerja. Tidak heran apabila kehadiran relawan jenis ini cukup populer dan berkesan, baik di hati para pegawai dan suster maupun di hati para relawan. Tidak sedikit yang diserahkan tanggungjawab oleh Suster Kepala sebagai koordinator atau menjalankan tugas tertentu di MC. Ada relawan koordinator barak pria di Kalighat, atau relawan penerima pendaftaran calon relawan, dsb.
Ada dua orang relawan asal Seraleon yang setiap tahun bekerja di Prem Dan. Hal itu sudah dijalaninya selama delapan kali, atau delapan tahun. Setiap tahun kedua orang ini kembali lagi ke Kolkata, bergabung di MC selama 2 bulan, dan bekerja di Prem Dan. Semua karyawan Prem Dan mengenalnya. Bekerja sebagai relawan mendatangkan cinta kasih kepada sesama.




Relawan adalah orang yang bekerja bukan karena banyaknya teman atau rekan. Relawan sejati tetap bekerja sekalipun sendiri; dan tidak mengeluh karena tidak ada seorang pun menemaninya bekerja.
Relawan tidak mencari perhatian. Ia bekerja tepat waktu, dan menyelesaikan pekerjaan secara baik dan tenang-tenang.
Relawan tidak perlu seorang yang pandai bergaul, tetapi ia mampu bekerja sama dengan orang lain.
Seorang relawan tidak perlu bertenaga besar untuk melakukan apa pun tanpa lelah (seperti kerbau!), tetapi ia tidak memilih-milih jenis pekerjaan – kecuali alasan kesehatan.
Relawan bekerja dengan penuh kehati-hatian dan perhitungan, supaya tidak menjadi beban bagi orang lain atau menjadi beban bagi para korban yang seharusnya ditolongnya.
Relawan bekerja bukan demi upah atau penghargaan, melainkan demi cinta kepada sesama dan pekerjaan itu sendiri. 

Jumat, April 04, 2008

PUASA


Oleh: Rasid Rachman


Pendahuluan
Tradisi berpuasa telah dikenal oleh umat manusia secara universal sejak berabad-abad lalu. Pada umumnya praktek berpuasa dihisapkan ke dalam ritus keagamaan, namun ada pula berpuasa yang dilakukan tanpa tata cara agama. Secara kronologis menurut kemunculannya, agama-agama besar seperti Hinduisme (abad ke-15 SM) menjelang hari raya Nyepi dan hari raya Saraswati, Yudaisme (abad ke-10 SM), Konfusianisme (abad ke-5 SM), Budhisme (abad ke-6 SM), Shinto, Kristen (abad ke-1 M) selama masa Prapaska, Taoisme (abad ke-2 M), dan Islam (abad ke-7 M) selama bulan Ramadhan, telah mempraktekkan puasa hingga hari ini. Demikian pula dengan agama-agama suku dan beberapa kebudayaan manusia, semisal: Indian-Amerika, Jawa, Cina, India, Yunani, dan sebagainya.
Khusus di dalam kekristenan, secara suka rela berpuasa tetap dipraktekkan baik secara komunal maupun personal. Puasa di dalam kekristenan berakar dari tradisi Yudaisme (dan mempunyai kesejajaran dalam Islam), tetapi tidak sama. Walaupun ada beberapa Gereja yang menetapkan puasa secara resmi dan ada pula yang tidak menetapkannya secara resmi, tetapi praktek itu dengan segala tata caranya terdapat di dalam kekristenan.

1. Arti etimologi dan tujuan
Puasa berasal dari dua kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu: upa dan wasa.
Upa, semacam perfiks yang berarti dekat. Wasa berarti Yang Maha Kuasa, seperti umat Hindu di Indonesia menyebut Sang Hyang Widhi Wasa. Jadi upawasa, atau yang kemudian pengucapannya menjadi puasa, tidak lain daripada cara mendekatkan diri dengan Tuhan. Sebagai cara untuk mendekatkan diri dengan Tuhan, puasa adalah pelatihan mental yang bertujuan mengubah sikap dan kejiwaan manusia.
Dengan demikian, puasa – terutama dalam agama Hindu – dipahami sebagai sarana, cara, atau metode untuk mencapai sesuatu. Dalam hal ini, mencapai sesuatu itu adalah membarui sikap. Oleh karenanya, sifat puasa adalah sakral, karena dihubungkan dengan niat mendekatkan diri kepada Tuhan. Puasa dapat dijalankan oleh lembaga, komunitas, atau individu.
Berdasarkan pengertiannya, puasa tidak bertujuan pada dirinya atau untuk berdiet, melainkan bertujuan untuk membarui sikap iman melalui pelatihan spiritualitas.

2. Perjanjian Lama
Orang Israel dalam Perjanjian Lama telah mengenal praktek berpuasa sejak lama. Secara umum puasa berasal dari kata tşŭm (berpuasa) tşŏm (puasa) atau ānna nafsyô (menekan hawa nafsu). Berpuasa menurut pengertian tersebut dijalankan dengan cara berhenti atau mengurangi makan (dan kadang-kadang minum) selama beberapa saat dalam rangka perendahan diri secara khidmat kepada Allah. Perendahan diri tersebut dilakukan dalam rangka berbagai hal, misalnya: penyesalan dan pendamaian kepada Allah dari kesalahan manusia (1Sam 7:4-6; 1Raj 21:27; Dan 9:3); duka cita (1Sam 31:13); perjuangan (2Sam 12:16,20-23; Est 4:15-17); merencanakan kemenangan melalui perang (Hak 20:26-30; 2Taw 20:3); Persiapan menyambut penyataan TUHAN (Kel 34:28; Ul 9:9; Dan 10:3); persiapan untuk pertobatan dan perdamaian menjelang hari raya Pendamaian (yom Kippur) pada tanggal 10 Tishri (bulan ke-7); mengenangkan kejatuhan Yerusalem dan pemulihan TUHAN atas Israel (Zak 7 – 8)
Berdasarkan uraian tersebut, fungsi puasa dalam Perjanjian Lama tidak melulu sebagai sarana, cara, atau metode (terutama untuk mencapai kesempurnaan). Fungsi puasa juga sebagai tanda, simbol, persiapan, pengudusan diri, dan tekad di dalam memperjuangkan sesuatu. Puasa seringkali dilakukan secara komunal di dalam liturgi dan bersifat suka rela. Sekalipun cara berpuasa hanya dihubungkan dengan makanan dan minuman, tetapi seringkali berpuasa diikuti
dengan berpantang.
Berpantang tidak hanya menyangkut soal makan dan minum. Berpantang dilakukan dengan mengerjakan sesuatu sebagai tanda, misalnya: penyesalan. Israel (Hak 20:26) berpantang dengan menangis dan mempersembahkan kurban. Ahab (1Raj 21:27) berpantang dengan mengenakan kain kabung dan abu. Israel berpantang dengan menangis dan mengaduh (Yl 2:12).

3. Perjanjian Baru
Tidak seperti dalam Perjanjian Lama yang lebih mengulas praktek berpuasa, puasa di dalam Perjanjian Baru mulai dipersoalkan penggunaannya. Puasa dalam bahasa Yunani ialah νηστεύω (tidak makan), atau dari άσιτος atau άσιτία. Arti kedua lebih menjelaskan kepada arti berpuasa terpaksa tidak makan (Kis 27:21). Sedangkan arti pertama lebih menjelaskan pada disiplin berpuasa sebagai suatu ibadah. Yesus berpuasa (νηστεύσας) selama empat puluh hari siang dan malam (Mat 4:1-11). Ketiga jawaban Yesus melawan Iblis menggambarkan hal ketergantungan manusia hanya kepada Allah. 1) “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman Allah.” 2) “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu.” 3) “Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu.” Hanya orang yang merasa laparlah yang bergantung pada Allah. Di dalam ketergantungan kepada Allah, manusia mengendalikan dirinya.
Di samping itu, rupanya ada kelompok manusia yang menyalahgunakan puasa (Mat 6:16). Yesus menyinggung hal berpuasa, “Apabila kamu berpuasa janganlah muram mukamu seperti orang munafik (maksudnya adalah orang-orang Farisi), supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Penulis Matius merujuk kepada praktek berpuasa yang dilakukan secara salah sebagaimana tertulis di dalam kitab Nabi-nabi.

4. Berpuasa dalam naskah Patristik
Hakikat berpuasa dalam Alkitab tidak sama 100% dengan berpuasa dan berpantang dalam sejarah Gereja. Ada beberapa hal yang tidak dilakukan oleh Gereja dan ada beberapa hal tidak ada dalam tradisi Yahudi. Naskah-naskah berikut membuktikan bahwa berpuasa telah dipraktekkan oleh Gereja – terutama kaum asket – sejak awal sekali.
Didakhe 7 (± 120 – 150) “sebelum pembaptisan, orang yang membaptis dan orang yang akan dibaptis harus berpuasa, dan orang lain pun boleh semampunya. Dan kamu harus mengatakan kepada calon baptis untuk berpuasa selama satu atau dua hari sebelum pembaptisan.” Secara tradisi, pembaptisan dan perjamuan kudus dilaksanakan pada hari Minggu Paska. Jadi, puasa calon baptis dilakukan pada Jumat dan Sabtu dalam masa raya Paska. Sejak abad ke-2 dan ke-3, kebiasaan berpuasa ini diperluas menjadi hari-hari tertentu yang ditetapkan sebagai hari puasa. Hingga kini, berpuasa sebelum perjamuan kudus pada hari Minggu masih menjadi kebiasaan bagi kebanyakan orang Kristen.
Puasa dan derma
Salah satu tujuan atau hikmat berpuasa yang belum dimunculkan pada zaman Alkitab, adalah praktek berpuasa yang diikuti dengan berderma. Seorang filsuf dan apologis: Aristides dari Athena (± 140) dalam Apologia-nya – ketika berbicara tentang sikap hidup orang Kristen di antara bangsa kafir – menuliskan tentang sikap yang baik bagi seorang Kristen. Antara lain dituliskannya:
“Jikalau terdapat orang miskin atau orang kekurangan di antara mereka (maksudnya: orang asing atau orang Kristen), dan jika mereka (maksudnya: orang Kristen itu) tidak mempunyai makanan lebih sama sekali, maka mereka berpuasa selama dua-tiga hari agar dapat memberikan makanannya kepada yang membutuhkannya.”
Apakah benar ajaran Aristides ini dilakukan secara demikian oleh orang-orang Kristen pada abad ke-2 itu, memang tidak ada bukti. Namun uraian ini dapat menjadi salah satu tolok ukur tentang sikap derma dan perhatian sosial dari berpuasa. Kaum asket memberlakukannya. Antonius dan Benediktus memperhatikan persoalan ini sebagai ajaran hidup monastik. Hanya, dari Aristides kita dapat merujuk dan melihatnya secara luas kepada kitab Nabi-nabi. Para Nabi (Yes 58:3-7; Yer 14:12; Za 7:5) mengecam orang yang salah dalam berpuasa. Berpuasa bukan tujuan, melainkan sarana untuk “membuka belenggu-belenggu kelaliman, melepaskan tali-tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya, membagikan rotimu kepada yang lapar” (Yes 58:3-7).
Pada masa kini, hal berderma waktu berpuasa dapat dilihat dalam Gereja Roma Katolik di seluruh dunia dan umat Islam melalui zakat fitrah. Umat Katolik menetapkan hal berderma melalui berpuasa; dikenal dengan Aksi Puasa Pembangunan (APP). Antara lain diinformasikan sebagai berikut:
“Puasa adalah gerakan tobat bersama yang bertujuan memurnikan kehidupan Kristiani dengan bertobat dan beramal, antara lain dengan mengumpulkan derma di Gereja-gereja dan sekolah-sekolah Katolik untuk proyek-proyek amal, sosial, dan pembangunan, ¼ dan proyek-proyek kemanusiaan di negara-negara berkembang.”
Dengan merujuk praktek tersebut, dapat dikatakan bahwa berpausa dan berderma merupakan hakikat puasa Gereja sejak awal sejarahnya.

Praktek berpuasa
Didakhe 8 menuliskan sebagai berikut: “Janganlah engkau melakukan puasamu seperti orang kafir (masudnya: orang Yahudi). Mereka berpuasa pada Senin dan Kamis, tetapi kamu harus berpuasa pada Rabu dan Jumat.”
Kedua hari tersebut dianggap berhubungan dengan peristiwa kematian Yesus, yakni ketika Yudas berkhianat untuk menjual Gurunya dan hari kematian-Nya. Gereja Timur dan beberapa tradisi kekristenan Barat tetap memberlakukan kedua hari tersebut sebagai waktu berpuasa sepanjang tahun di luar masa Prapaska. Pada masa Prapaska, lazimnya Gereja memberlakukan puasa lebih intensif selama dua pekan menjelang Paska; semakin dekat kepada Paska, maka berpuasa semakin intens terutama pada Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Pada masa Prapaska selama empat puluh hari itu diberlakukan pula kepada para calon baptis.
“Angka 40 mengingatkan akan empat puluh tahun umat Israel menjelajah di gurun pasir sebelum memasuki Tanah Suci, empat puluh hari Musa berada di Gunung Sinai, dan terutama empat puluh hari lamanya Yesus berpuasa.”
Biasanya umat berpuasa pada Rabu Abu dan Jumat Agung dan berpantang makan daging atau jenis pantangan lain yang ditentukan sendiri oleh pribadi yang menjalankannya. Misalnya tidak merokok, pantang gula, pantang garam, pantang pesta, pantang hiburan, dsb. Dalam beberapa kesempatan pun, semisal: sebelum pembaptisan, sebelum perjamuan kudus, sebelum kebaktian, banyak orang Kristen berpuasa singkat. Oleh karena sifat puasa adalah suka rela dan personal, maka waktu dan bentuknya bisa tidak dimutlakkan. Namun tujuan puasa untuk berhemat dan menahan diri sangat bermanfaat bagi disiplin spiritualitas. Hasil penghematan itu dapat untuk derma. Uang rokok, pesta pora, hiburan, dapat diirit dan disumbangkan kepada orang miskin dan proyek-proyek kemanusiaan.
Bagi kebanyakan Gereja Protestan, praktek berpuasa sebagaimana dilakukan oleh Yesus, tidak terkalu ditekankan, apalagi diberlakukan sebagai liturgi umat. Namun Gereja tidak melarang ibadah personal puasa ini, apabila dilakukan dengan suka rela. Memang pada kenyataannya, tidak sedikit orang Kristen yang melakukan puasa. Kaum Injili, Gereja-gereja Pantekostal, kelompok Kharismatik, secara terbuka mengizinkan dan menganjurkan umat-Nya berpuasa. Gereja Katolik menyusun aturan berpuasa yakni: satu kali makan kenyang dan dua kali makan sedikit saja dalam sehari. Hal ini mengarahkan orang untuk berhemat dan menahan diri dari hawa nafsu. Bahkan tidak sedikit Gereja-gereja oikumenikal yang mempermaklumkan umat-Nya berpuasa. Jadi berpuasa adalah ibadah personal yang lazim dilakukan oleh orang Kristen secara suka rela.
Selain sebagai disiplin penyadaran akan lemahnya diri, puasa memiliki hikmah sebagai sarana pengendalian diri dari keserakahan dan ketergantungan pada jasmani. Semuanya dilakukan dalam rangka melatih hidup keagamaan yang lebih baik. Pengendalian diri bertujuan agar Gereja (atau “yang berpuasa”) tidak lepas kendali. Gereja harus mampu menahan diri dari nafsu jasmani dan keinginan daging. Itulah sebabnya puasa – baik di kalangan Kristen maupun dalam Islam – selalu diikuti dengan derma atau zakat, yang olehnya ibadah puasa memperoleh bobotnya dan menjadi berkat. Puasa tanpa kontrol diri atau puasa yang diikuti dengan pesta pora, dan puasa tanpa derma, adalah puasa yang tidak menjadi berkat.

Daftar pustaka
da Cunha, Bosco, Merayakan Karya Penyelamatan: dalam Kerangka Tahun Liturgi., 1992, h 30.
Dix, Dom Gregory, The Shape of the Liturgy, 1945.
Heuken, Adolf, Puasa, Ensiklopedi Gereja IV. Yayasan Cipta Loka Caraka 1994, h 52-53.
Kraus, Hans-Joachim Kraus, Worship in Israel: a Cultic History of the Old Testament. Terj.: Geoffrey Buswell, 1966.
Myers, Allen C. (ed), The Eerdmans Bible Dictionary: Fasting, 1987, h 377.
OMF, Puasa, berpuasa, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini II. 1995, h 280.
Petry, Ray C. (ed), A History of Christianity: Readings in the History of the Early and Medieval Church, 1962.
Pidada, Ida Ayu Utami, Makna Puasa dalam Praktek dan Tradisi, KOMPAS 260 tahun ke-31, Rabu, 20 Maret 1996, h 4-5.
Wakefield, Gordon S., The Westminster Dictionary of Christianity Spirituality, David Tripp: Fasting, 1983, h 147-148.