By Rasid Rachman
Ezekiel 47:1 (RSV)
Then he brought me back to the door of the temple; and behold, water was issuing from below and threshold of the temple toward the east (for the temple faced east); and the water was flowing down from below the south end of the threshold of the temple, south of the altar.
Today I will not speak about the messages of the bible. But I will speak about the information that be announced by one verse of Ezekiel and tradition of Christianity. I will speak that face to east have been common for long-long time ago in tradition.
Face to or direction to are well known by Indonesian people as the custom of Moslem prayer. We call it kiblat, or qibla. When Moslems prayer, they face to Mecca. Mecca is the direction or qibla. Our Holy Bible announces us that Israelites prayer face to east as well. Daniel prayed with his face to Jerusalem. Daniel 6:10 (RSV) wrote that “Daniel went to his house where he had windows in his upper chamber open toward Jerusalem.” Why did he face to Jerusalem? Because, there was the temple of God in Jerusalem. And the temple, according to the Ezekiel, face to east. It means people prayer toward east. The direction while prayer has become a custom of Christianity commonly.
East is the symbol of messiah. Messiah will come from east, so called the ancient believe. That’s why, ancient people, included Israelites, who are waiting for the messiah coming face their prayer to east.
In New Testament era and Patristic era, Christianity reinterpreted the meaning of east. East was not only for the messiah coming, but also symbolized the resurrection of the Lord. The sunrise means the resurrection. Christians pray with faces to east. Ancient churches were built in direction to east as well as the position of baptistery. Some desert monks in ancient Egypt face to east during prayer on every Saturday and Sunday. Some Church buildings in Indonesia, those are mostly Roman Catholic, built face to east as well, such as Cathedral Jakarta and Gedono Chapel at Salatiga. East as the direction of prayer is common for Christian tradition.
East also the place where sun rise every morning. Malachi 4:2 (RSV) said that “the sun of righteousness shall rise”. What or who is the sun of righteousness? That is Lord who will judge His people at the Lords day. In another word, Jewish and Christian traditions have made the similarity between sun and the Lord.
That mention brings implication in praxis of world point of view. The day of the Lord (Rev 1:10 “Kyriake emera” RSV) or the first day in week or Ehad in Hebrew changed to Sunday. Some languages in the world call Sunday or the day of the sun, such as English, Dutch, Netherlands, other languages call first day of the week, such as Arabic and Hebrew, and others call the day of the Lord, such as Portugal, Italy, France, and Indonesia.
I hope this explanation may open our mind about symbolization of place and similarity of other religion. ˚
Tampilkan postingan dengan label kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kontemplasi. Tampilkan semua postingan
Kamis, November 05, 2009
Kamis, Juli 02, 2009
Kamis, April 30, 2009
MASA KINI TERHADAP MASA DEPAN
oleh: Rasid Rachman
Kata iklan: “Keajaiban tidak terjadi seketika.”
Kata saya: “Amin!”
Seorang teman bermain sewaktu kecil fasih berbicara dalam 3 bahasa: Inggris, Mandarin, dan Perancis. Itu diperolehnya ketika dia baru berusia 17 tahun. Wao ...! Saya bertanya (waktu itu): “Untung ya kamu dapat mujizat seperti itu.” Dia segera menjawab: “Bukan mujizat, tetapi belajar setengah mati dan setengah terpaksa.” Orangtuanya agak memaksa anak-anaknya untuk menguasai bahasa-bahasa tersebut. Waktu itu, dia masih anak-anak, belum tahu faedahnya. Kemudian baru dia sadar bahwa dia menjadi lebih beruntung dibanding teman-teman sebayanya. Intinya, keajaiban tidak (ada yang) terjadi seketika.
Bagaimana dengan kesialan? Apesnya, kesialan juga (seringkali) tidak terjadi seketika. Setidaknya demikian refleksi penulis kitab Ratapan. Penderitaan umat Israel di zaman penulis Ratapan adalah karena ulah nenek moyang mereka yang melawan Allah. Perlawanan mereka kepada Allah, mereka lakukan berulang kali selama 200 - 300 tahun. Akibat ulah mereka pun ditanggung oleh keturunan mereka yang kesekian. Nenek moyang yang berbuat ulah, anak-cucu yang menanggung dosa.
Pesannya adalah: hati-hatilah mengisi hidup yang sekarang ini. Segala yang kita lakukan kini, dapat menjadi berkat atau laknat bagi masa depan kita atau bahkan bagi anak-cucu kelak.
Kata iklan: “Keajaiban tidak terjadi seketika.”
Kata saya: “Amin!”
Seorang teman bermain sewaktu kecil fasih berbicara dalam 3 bahasa: Inggris, Mandarin, dan Perancis. Itu diperolehnya ketika dia baru berusia 17 tahun. Wao ...! Saya bertanya (waktu itu): “Untung ya kamu dapat mujizat seperti itu.” Dia segera menjawab: “Bukan mujizat, tetapi belajar setengah mati dan setengah terpaksa.” Orangtuanya agak memaksa anak-anaknya untuk menguasai bahasa-bahasa tersebut. Waktu itu, dia masih anak-anak, belum tahu faedahnya. Kemudian baru dia sadar bahwa dia menjadi lebih beruntung dibanding teman-teman sebayanya. Intinya, keajaiban tidak (ada yang) terjadi seketika.
Bagaimana dengan kesialan? Apesnya, kesialan juga (seringkali) tidak terjadi seketika. Setidaknya demikian refleksi penulis kitab Ratapan. Penderitaan umat Israel di zaman penulis Ratapan adalah karena ulah nenek moyang mereka yang melawan Allah. Perlawanan mereka kepada Allah, mereka lakukan berulang kali selama 200 - 300 tahun. Akibat ulah mereka pun ditanggung oleh keturunan mereka yang kesekian. Nenek moyang yang berbuat ulah, anak-cucu yang menanggung dosa.
Pesannya adalah: hati-hatilah mengisi hidup yang sekarang ini. Segala yang kita lakukan kini, dapat menjadi berkat atau laknat bagi masa depan kita atau bahkan bagi anak-cucu kelak.
Rabu, Oktober 29, 2008
Berhening di Makam Bunda

Oleh: Rasid Rachman
Bunda Teresa dimakamkan di Mother House. Makam itu terletak di bagian depan (namun pintu masuk adalah dari arah belakang, maka makam ini tidak pas di pintu masuk tersebut), menyatu dengan tempat para suster melakukan aktivitas harian. Di atas makam, di lantai 2 terletak kapel. Di kapel itu dilayankan ibada-ibadah harian untuk komunitas dan umum, pagi pukul 06.00 dan senja pukul 18.00.
Area makam sekitar 10 m x 6 m. Pintu masuk terletak disebelah kepala pusara, dari arah dalam Mother House. Pusara jasad Bunda Teresa setinggi 120 – 140 cm, panjang sekitar 200 cm dan lebar sekitar 180 cm. Pusara itu berwarna putih krem berbatu pualam. Suasana sejuk dan tenang terasa di dalam makam itu, kontras dengan semrawut dan bisingnya Kolkata.
Tidak ada yang istimewa dari penempatan makam tersebut. Mau ke makam itu, tidak dikenakan prosedur apa pun, kecuali pembatasan waktu berkunjung. Siapa saja boleh masuk-keluar, berkunjung, berziarah mempersembahkan bunga, atau sekadar melihat-lihat foto dan tulisan tentang Bunda Teresa. Kadang-kadang, lokasi makam itu juga digunakan untuk saling berbicara. Asal semua orang saling menghormati, dan menjaga kekhidmatan tempat tersebut.
Saya seringkali ke makam itu jika libur bekerja atau sore hari. Biasanya tanpa alasan jelas; sekadar menghabiskan waktu atau beristirahat atau sekadar berhening. Kesunyian dan keheningan kadang menjadi kebutuhan setelah seharian beraktivitas. Di dalam keheningan itu, saya merasakan hadirnya Bunda Teresa di ruang itu. Aman dan nyaman.
Namun keberadaan itu adalah istimewa. Makam itu bukan hanya mendatang aura spiritualitas Bunda Teresa, tetapi juga menjadi oasis bagi setiap orang yang mencari kesunyian dan keheningan. Ketiadaan “oasis” rutintas dan aktivitas itulah yang seringkali dilupakan sebagai suatu kebutuhan.
Jumat, Juli 18, 2008
Langganan:
Postingan (Atom)